Pages

Minggu, 04 November 2012

mengenal agama katolik


                                                                       A G A M A

Agama dapat diuraikan dengan dua pengertian. Pengertian umum dan pengertian khusus. Dalam pengertiannya yang umum, agama adalah ungkapan hubungan antara manusia dengan yang Ilahi, yaitu kekuasaan yang kudus yang dianggap lebih tinggi dari pada manusia itu sendiri. Kepada Yang Ilahi itu manusia mengalami daya tarik, tetapi sekaligus juga mengalami perasaan takut. Tetapi lebih daripada semua perasaan yang di alami itu, manusia mengalami ketergantungan kepada yang Ilahi itu. Penganut masing-masing agama menyebut yang Ilahi itu dengan berbagai nama: Allah, Tuhan, Sang Hyang Ada, Dewa, dan sebagainya.

Pengalaman akan yang kudus, yang suci atau yang Ilahi itu disebut dengan iman atau kepercayaan. Pengalaman itu mengena pada manusia secara utuh, yaitu kemampuannya untuk berpikir, berkendak, dan bertindak.

Agama Katolik memperkembangkan pengertian umum itu di dalam pengertian khusus. Agama Katolik adalah ungkapan manusia yang beriman kepada Allah, melalui Yesus Kristus. Ungkapan itu dilakukan karena manusia percaya bahwa Allah telah terlebih dahulu mengambil prakarsa untuk mengasihi manusia, seperti di tulis oleh Yohanes: "Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yoh. 4:19). Maka agama adalah ungkapan kasih kepada Allah yang terlebih dahulu telah mengasihi manusia. 0leh Allah kasih itu dinyatakan dengan menciptakan manusia, dengan memberi kehidupan, dengan mengampuni dosa-dosa manusia, dan lebih-lebih dengan memperbolehkan manusia mengenal siapa Allah itu bagi manusia. Karena semua manusia dikasihi oleh Allah maha kasih yang sama dijadikan dasar hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya. Maka agama juga merupakan ungkapan kasih antara manusia, sehingga Matius menulis: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum kedua, yang sama dengan itu, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri " (Mat 22:37-38).

Bahkan tertulis juga: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Mat 5:44). Hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama didasari oleh kasih yang satu dan sama sehingga Yohanes menulis: "Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (1 Yoh 4:20-21).

Kuliah agama Katolik dimaksudkan agar dapat. membantu mahasiswa untuk menjadi manusia yang beragama. Dengan kata lain, kuliah agama Katolik dimaksudkan untuk membantu mahasiswa dalam proses menjadi manusia yang mampu mengerti secara benar apa arti cinta kasih kepada Allah dan manusia, membantu mahasiswa untuk menjadi manusia yang mampu menginginkan cinta kasih itu yang baik dan membantu juga untuk melaksanakan cinta kasih itu di dalam perbuatannya.

MENJADI ORANG KATOLIK


Sebagian orang beriman, tidak cukupkah menjadi Kristen saja? Mengapa masih ditambah dengan kata "Katolik"? Tambahan itu, tidakkah akan memberi kesan memecah-mecah kekristenan? Ada yang "Katolik", ada yang "tidak Katolik". Itulah antara lain pertanyaan-pertanyaan yang muncul lebih-lebih bila kita ingin mempertanggungjawabkan identitas kita sebagai orang-orang yang beriman kepada Kristus dalam berpikir, berkehendak, dan berbuat.

1.     Arti kata Katolik

Kata Katolik sendiri berasal dari kata bahasa Yunani: Katholikos. Sebuah kata yang terdiri dari kata (Yun) dan holou (Yun). kata itu berarti mengenai sedangkan holou itu berarti keseluruhan.  Biasanya diterjemahkan dengan kata umum. Kata umum ini di pergunakan sebagai lawan kata untuk kata-kata; yang tersendiri atau setempat atau sebagian. Di dalam kata Katholikos terkandung makna yang menyangkut ruang yang tanpa batas.

2.     Istilah Katolik di dalam Kalimat Syahadat :

Pengikut Kristus tidak sejak semula disebut Kristen semua atau Katolik. Lukas di dalam kisah para Rasul misalnya, menulis bahwa mereka di sebut sebagai "murid-murid Tuhan" atau "laki-laki atau perempuan yang mengikuti jalan Tuhan" (Kis 9:1-2). Di Antiokhia orang-orang beriman di. sebut Kristen untuk pertama kali:

"... Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen." (Kis 11:26), kemudian kata itu menjadi kata keterangan seperti : "Hampir-hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen." (Kis 26:28).

Kapan muncul istilah Katolik? Kekristenan semakin menunjukkan pengertian kelompok. Semula mereka tidak memberi kesan menyendiri. Dari kisah para Rasul kita baca, bahwa mereka tidak memiliki tempat berdoa sendiri, mereka menggunakan kenisah orang-orang Yahudi (lihat Kis 2:46). Tetapi semakin hari iman mereka terasa tidak mencukupi bila hanya di ungkapkan secara Yahudi saja, maka mulai terdapat ketegangan antara mereka yang merasa bahwa ungkapan Yahudi itu adalah ungkapan Kristen dan mereka yang mau mengatasi keterbatasan kebiasaan Yahudi itu. Sidang di Yerusalem seperti kita baca pada kisah para Rasul 15:1-21 merupakan sebuah pernyataan bahwa ungkapan iman itu luas, tak dapat di batasi dalam salah satu ungkapan saja.

Kapan mulai di pergunakan istilah Katolik? Jemaat-jemaat beriman memiliki rumusan-rumusan syahadat yang singkat. Symbolum Romanum misalnya, di pergunakan kira-kira pada tahun 150, Rufinus (+ 410) menamakan rumusan syahadat ini symbolum Apostolorum (Syahadat para Rasul). Rumusan Syahadat itu, dalam bentuknya yang lebih kemudian ditemukan dalam karangan Pirminius dari Reichenau pada tahun 720.

Mari kita bandingkan rumusan-rumusan khususnya bagaimana kata katolik itu, khususnya bagaimana kata katolik itu berkembang: Pada rumusan yang pertama tidak terdapat kata itu ; “…. Sanctam Eccesiam” (Gereja yang kudus) langsung disambung dengan remissionem Peccatorum (pengampun dosa). Tetapi di dalam rumusan yang kemudian kata Katolik itu telah terdapat : “…. Sanctam Ecclesiam catholicam sanctorum communionem peccatorum” (Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus penghapus dosa).
Rumusan syahadat ini sekarang menjadi rumusan milik hampir seluruh jemaat Kristen. Masalahnya terletak bagaimana menerjemahkan dan menafsirkan kata Katolik itu. Terjemahan Katolik menerjemahkan kata-kata ecclesia catholika menjadi Gereja Katolik, dengan huruf "K" besar. Sedangkan terjemahan bukan Katolik menerjemahkan dengan kata “am”. Kata Katolik yang semula lebih merupakan kata keterangan mengalami pergeseran menjadi kata benda.

3.     Menjadi Katolik adalah perjuangan agar tidak menjadi tertutup dan usaha menjadi terbuka

Menjadi Kristen dapat menjadi tertutup, yaitu bila agama itu lebih di pandang dan dihayati sebagai pembentukan kelompok. Kelompok, lebih-lebih bila berkembang menjadi organisasi dapat menjadi beku. Iman Kristen telah berkembang dalam sejarah untuk mengatasi kebekuan-kebekuan itu.

Ungkapan iman yang pertama, lahir dalam pangkuan budaya Yahudi. Bahkan salah satu budaya Yahudi itu pernah menggoda untuk menggenggamnya, bahkan salah satu adatnya, yaitu sunat pernah menuntut untuk dijadikan keselamatan. Konsili Yerusalem yang pertama berhasil melepaskan iman Kristen dari kungkungan budaya Yahudi. Kemudian masuk dan mempergunakan budaya Yunani. Rumusan ajarannya di pengaruhi oleh budaya itu terutama melalui filsafatnya. Dengan alat berpikir Yunani itu, iman Kristen berkembang di dalam sejarah, antara lain dengan membentuk budaya Barat, panggilan untuk menjadi Katolik menjadi umum itu menjangkau ke luar. Kekristenan mengatasi suku dan bangsa menjangkau dunia, keluar dari dunia yang selama itu di sebut dunia Kristen, tetapi yang tak lain dan tak bukan hanya dunia Barat yang tetap terbatas. Ucapan Paulus: "Karena kamu semua, yang dibaptis di dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Da1am hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus" (3:27-28). Kutipan ini dapat dibaca sebagai sebuah anjuran bahwa iman mengundang untuk mengatasi keterbatasan setempat dan sewaktu.

Menjadi "Katolik" merupakan kegiatan yang menempuh dua sisi. Sisi pertama adalah masuk dalam sebuah lingkup yang terbatas, mengakar di situ, tetapi pada saat yang sama mengatasinya.


Pengikut